Beranikah Bosssss…..

Posted: Oktober 12, 2010 in Uncategorized
Tag:

Menjadi atasan atau pimpinan gampang-gampang susah. Selain itu juga ada suka maupun dukanya. Dan, seorang atasan atau pimpinan, harus berinteraksi dengan bawahannya, yang sama-sama memiliki suatu tugas dan tanggung jawab.
Dalam berinteraksi itulah, kadang terjadi benturan-benturan yang tidak menyenangkan. Mungkin bawahan Anda melakukan kelalaian atau kesalahan. Untuk itulah, Anda berhak dan bahkan wajib menegurnya, agar kesalahan yang dilakukan tidak terulang lagi, sehingga aktivitas di kantor tidak terganggu. Namun, ada saatnya pula, Anda sebagai atasan, perlu memberikan penghargaan dan ucapan terima kasih, karena bawahan Anda melakukan pekerjaan dengan sempurna. Bagaimanakah kiat yang jitu agar Anda mampu menegur bawahan dengan bijak?

1. Jangan memberi teguran di tempat dan waktu yang salah

Kadang, karena terlalu emosi, seorang atasan menegur bahkan memarahi bawahannya di tempat yang kurang pas. Misalnya, di depan para karyawan lainnya yang sedang santai beristirahat. Atau mempermalukan karyawan di saat rapat.
Seorang bawahan yang tiba-tiba kena tegur atau kena marah atasannya di tempat dan waktu seperti ini, kadang membekas di hati dalam waktu yang lama. Bahkan, bisa menjadi dendam. Sebab dia tidak terima dipermalukan di depan teman-temannya. Akan lebih bijaksana, bila atasan memanggil bawahan yang memang harus ditegur itu ke ruang kerjanya. Ditunjukkan kesalahannya. Bila kesalahannya ringan, tegurlah secara lisan. Selain itu, beri jalan keluar agar dia tidak mengulangi kesalahan tersebut. Jangan asal bentak pada saat dan tempat yang tidak tepat.
Jika Anda mampu menegur pada saat dan tempat yang tepat, bawahan akan menghargai Anda. Dan dia akan kembali bekerja dengan perasaan plong, tanpa sakit hati karena merasa dipermalukan.

2. Tegur bawahan sesuai prosedur yang telah disepakati bersama

Menegur bawahan biasanya ada mekanismenya. Untuk itu, Anda sebagai atasan perlu menaati mekanisme tersebut. Bila kesalahan bawahan tergolong ringan, tegurlah dengan lisan. Bila kesalahannya tergolong berat, Anda bisa memberikan teguran secara tertulis, tapi bertahap. Dari teguran pertama hingga ketiga. Selanjutnya, Anda bisa menjatuhkan sanksi yang berat, misalnya menskors atau membebastugaskan bawahan Anda. Yang penting Anda pahami, jangan sekali-kali keluar dari mekanisme yang ada. Sebab banyak mata dan hati melihat cara Anda sebagai atasan, menegur para bawahan. Sekali salah langkah, bisa-bisa Anda sendiri jatuh dari “kursi” kepemimpinan.

3. Jangan campuradukkan masalah pribadi dengan masalah kantor

Baru saja tiba di kantor, seorang atasan tiba-tiba membentak bawahannya. Padahal, sang bawahan belum mengetahui apa kesalahan yang diperbuatnya. Bentakan itu bukan hanya terdengar oleh bawahan yang kena marah, tapi juga mengagetkan karyawan lainnya. Selidik punya selidik, ternyata sang atasan hanya melampiaskan kemarahannya karena baru bermasalah dalam rumah tangganya.
Sebagai seorang yang profesional, hal itu tidak perlu terjadi. Apalagi Anda sebagai atasan yang tentu saja memiliki nilai lebih dibandingkan anak buah. Baik itu dalam hal mengendalikan emosi maupun dalam hal berpikir sehat dan jernih dalam melihat suatu permasalahan. Sebelum masuk kantor, alangkah baiknya Anda menata batin sejenak. Misalnya dengan menghela napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan. Niscaya emosi akan terkendali, bahkan hilang sama sekali. Pikiran Anda pun lalu tertuju pada tugas-tugas rutin di kantor dan menjadi inspirator bagi bawahan Anda. Ingat, jangan buang kesal di depan bawahan Anda.

4. Buatlah suatu teguran bukan seperti teguran

Menegur seseorang dan orang tersebut tidak merasa ditegur, tapi merasa diberi masukan, adalah tindakan yang bijaksana. Untuk bisa melakukan hal ini, Anda perlu melatih kedewasaan sebagai seorang pemimpin. Emosi, objektivitas, logika berpikir dan berbahasa, serta pandangan jauh ke depan perlu Anda olah sedemikian rupa. Sehingga ketika Anda sedang dalam situasi “geram” kepada anak buah, pelampiasannya konstruktif. Tidak asal “jewer” atau asal “sentil”. Sebisa mungkin, buatlah bawahan merasa nyaman dalam memperbaiki kesalahannya.

5. Ajak bawahan memperbaiki kesalahan bersama-sama dengan Anda

Sebagai seorang atasan, Anda perlu jeli melihat kemampuan bawahan. Kemungkinan, kesalahan yang dilakukan bawahan karena memang dia sudah tidak tahu lagi jalan keluar untuk memperbaiki kesalahannya. Di sinilah Anda perlu “masuk” ke dalam wilayah kerja bawahan Anda. Ajak dia memperbaiki kesalahan bersama-sama dengan Anda. Sebab sebagai pemimpin, Anda wajib menutup kelemahan anak buah. Ini sebenarnya juga suatu bentuk teguran, tapi sangat halus sifatnya. Namun, bisa jadi bentuk seperti ini malah membuat bawahan Anda cepat memahami seluk-beluk pekerjaan mereka. Bahkan, bawahan mampu mengembangkan tugas-tugasnya lebih dahsyat lagi. Jauh dari yang ada dalam bayangan Anda! Ini karena tidak lepas dari cara Anda memberi teguran yang simpatik.

6. Jangan pilih kasih kepada bawahan (walaupun latar belakangnya anak orang gedean)

Siapa pun yang bersalah, tegurlah! Nasihat itu mungkin ada baiknya Anda hiraukan. Sebagai atasan, sebaiknya Anda tidak pilih kasih, bahkan memiliki “anak emas”. Siapa pun karyawan yang bersalah, jangan ragu untuk diberi teguran. Jika Anda memiliki anak emas yang menjadi andalan Anda, biasanya menimbulkan iri hati pada karyawan lain. Biasanya pula, Anda jadi takabur. Anak emas Anda yang mungkin saja bisa “bertingkah”, luput dari teguran Anda. Padahal, Anda wajib menegur anak emas Anda itu. Jadi, langkah sederhana yang bisa Anda lakukan, jangan pilih kasih, dekatlah secara wajar kepada setiap bawahan, dan… tidak perlu memiliki “anak emas”. Tapi milikilah karyawan-karyawan yang tangguh dan profesional di bidangnya. Dan yang lebih parah lagi anda merasa takut untuk menegur bawahan dengan latar belakang tertentu yang mungkin akan mempengaruhi kredibelitas anda sebagai seorang pemimpin.

7. Identifikasi dengan benar siapa yang bersalah

Bisa jadi, kesalahan dilakukan oleh beberapa karyawan yang saling berkaitan dalam suatu tugas. Untuk itu sebagai atasan, Anda harus jeli mengidentifikasi siapa dari karyawan Anda yang benar-benar melakukan kesalahan. Identifikasi masalah yang tepat dari Anda, tidak akan menimbulkan kerumitan baru, yang membuat antar-karyawan saling menyalahkan. Tunjuk dengan tegas yang benar-benar melakukan kesalahan, dan berikan sanksi sesuai mekanisme yang ada. Jangan membuat keputusan mendua, yang bisa menimbulkan banyak penafsiran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s